Versi Muda Diriku Akan Bertanya

Foto oleh iam_os di Unsplash

Versi Muda Diriku Akan Bertanya

M. Zakyuddin Munziri

M. Zakyuddin Munziri

@zakiego

Ditulis asli dalam English.

Belakangan ini, aku merasa semua yang aku punya terasa tidak memuaskan. Bukan berarti tidak berharga, hanya saja rasanya tidak lagi menggetarkan. Aku mencoba mencari sudut pandang lain—sesuatu yang bisa membuatku lebih bersyukur.

Aku membicarakan perasaan ini dengan pasanganku, dan dari percakapan itu aku menyadari sesuatu.

Bagaimana jika aku bertemu diriku yang berusia 18 tahun?

Bayangkan aku menemuinya di sekolah. Ia masih memakai seragam, lelah oleh sekolah dan oleh hidup pribadinya. Ia tidak benar-benar tahu arah hidupnya. Ia hanya mencoba menuntaskan sekolah dan melihat apa yang terjadi setelahnya, sambil menghadapi masalah di rumah.

Aku menjabat tangannya dan berkata, “Hei, aku adalah kamu di masa depan.”

Aku sangat yakin ia akan terkejut.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah membayangkan bisa menjadi aku hari ini. Ia bahkan belum tahu ingin menjadi apa saat dewasa.

Ia akan bertanya, “Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi kamu? Tolong ceritakan bagaimana kisahku nanti.”

Lalu aku menceritakan semuanya. Apa yang akan terjadi setelah ia lulus. Apa yang akan terjadi selama masa jedanya. Apa yang akan terjadi ketika ia akhirnya kuliah. Dan apa yang akan terjadi ketika ia menjadi aku yang sekarang.

Bagi dirinya, itu terasa seperti mimpi.

Ia akan bersemangat tentang perjalanannya. Ia akan melewati semuanya. Ia tidak akan berhenti saat menghadapi masalah. Ia akan mencoba banyak hal. Ia tidak akan takut gagal.

Itulah intinya.

Mengetahui bahwa masa depannya ada—mengetahui bahwa ia akan menjadi seseorang—cukup untuk membuatnya terus bergerak maju.

Lalu aku menyadari hal lain.

Jika diriku yang muda akan merasakan itu setelah bertemu aku, maka diriku di masa depan pun akan merasakan hal yang sama saat bertemu aku hari ini.

Tidak ada yang benar-benar berubah. Aku masih anak yang sama. Nasihat yang kubutuhkan kemarin adalah nasihat yang sama yang kubutuhkan hari ini, dan nasihat yang sama yang akan kubutuhkan besok.

Jadi aku hanya perlu terus berjalan.

Jangan pernah berhenti bertumbuh. Besok, aku akan bertemu diriku lagi, dan aku ingin membuatnya bangga kepadaku.

——

Selesai ditulis pada 9 Jan 2026, 23:29 di Pelaihari.

Artikel Lainnya

Dunia Itu Kejam Kepada Laki-Laki

Dunia Itu Kejam Kepada Laki-Laki

Laki-laki dihargai atas hasil usahanya, bukan usahanya. Mereka belajar menahan suara, menelan lelah, dan menutupi kecemasan supaya tidak merepotkan orang lain. Padahal dalam hatinya, mereka perlu seorang yang mendengar keluh kesahnya.