
Foto oleh Valentina Paschetto di Unsplash
Hal Paling Egois yang Bisa Kita Lakukan ke Pasangan adalah Mengatakan Bahwa Kita Baik-Baik Saja
M. Zakyuddin Munziri
@zakiego
Tidak setiap hari langit akan cerah. Ada waktu ia murung, gelap. Pada waktu lain, ia menurunkan hujan tanpa aba-aba.
Serupa dengan seorang anak manusia. Tidak setiap hari kita bahagia. Ada hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Dada lebih sesak. Bahu lebih berat.
Namun, di depan pasangan, acap kali kita memilih satu jawaban yang sama.
Saat ditanya, “bagaimana harimu hari ini?”
Sembari menarik napas pelan, di balik telepon, kita menjawab, “baik.”
Padahal tidak.
Mengatakan “baik-baik saja” sering kita anggap sebagai bentuk kedewasaan. Sebagai tanda bahwa kita kuat. Bahwa kita bisa mengurus diri sendiri.
Dan memang, ada saat di mana kepura-puraan dibutuhkan.
Tapi dalam sebuah hubungan, kepura-puraan yang terus-menerus justru perlahan berubah menjadi jarak.
Karena tanpa sadar, kita sedang menutup pintu.
Pintu bagi pasangan untuk masuk ke dunia kita. Untuk tahu apa yang kita rasakan. Untuk hadir, bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari hidup kita.
Dua orang anak manusia yang bersama dalam sebuah hubungan, tentu mencintai satu sama lain. Seperti ungkapan klasik, mereka ingin saling melengkapi.
Namun mari kita berhenti sejenak pada kata “melengkapi.”
Saat kita berkata “melengkapi satu sama lain”, alurnya sederhana:
- Aku membawa kekuranganku
- Kamu membawa kekuranganmu
- Lalu kita saling menutup celah itu bersama
Masalahnya muncul ketika kita menampilkan diri seolah tidak memiliki celah apa pun.
Saat kita selalu terlihat kuat. Selalu baik-baik saja. Selalu mampu.
Tanpa sadar, kita mengambil satu peran penting dari pasangan kita: peran untuk hadir dan melengkapi.
Kejujuran atas kelemahan memang tidak pernah mudah. Mengakui bahwa kita lelah, takut, atau rapuh, sering terasa seperti membuka aib sendiri.
Tapi justru di sanalah kedekatan tumbuh.
Ketika kita berani berkata, “aku sedang tidak baik-baik saja,” kita sedang memberi kepercayaan. Kita sedang mengatakan, “aku merasa aman bersamamu.”
Dan kepercayaan adalah fondasi paling sunyi namun paling kuat dalam sebuah hubungan.
Mengatakan “aku tidak apa-apa” saat kita sebenarnya tidak, sering kita niatkan untuk melindungi pasangan. Padahal yang terjadi sebaliknya.
Kita menjauhkan mereka.
Kita mencabut hak mereka untuk mendengar. Untuk memeluk. Untuk ikut memikul beban, walau hanya sedikit.
Dalam hubungan, kekuatan bukan tentang selalu terlihat kuat. Kekuatan justru hadir saat dua orang bisa duduk bersama dalam ketidaksempurnaan, tanpa harus berpura-pura.
Bukankah indah, saat dua orang anak manusia, ketika bersama, tidak perlu menjadi orang lain? Mereka bisa menjadi diri mereka sejujur-jujurnya.
Selesai ditulis pada Sabtu, 9 Januari 2026, 23:09, di Pelaihari


